Bisnis adalah usaha
komersial dalam dunia perdagangan; bidang usaha, usaha dagang atau di bidang
usaha lain. Sedangkan proyek adalah rencana pekerjaan dengan sasaran khusus
untuk pembangkit dan peningkatan. Oleh karena itu, bisnis proyek adalah dimana
seseorang membuka usaha komersial dalam dunuia perdagangan untuk pembangkitkan
dan peningkatan tujuan yang diharapkan.
Selagi manusia hidup di
belahan bumi, manusia diwajibkan untuk membuka
usaha agar bisa mengatasi berbagai persoalan yang terjadi dalam
kehidupan bermasyarakat. Usaha juga sebagai bahan pelengkap dalam kehidupan, karena
usaha mengandung nilai keuangan. Dan
uang sebagai tolak penguukuran untuk menjadi sejahtera.
Kabupaten Deiyai sebagai
titik pusatnya untuk menjadi kurang
berbisnis dalam dunia perdagangan baik barang dan jasa maupun berdagang dalam
bidang lain, yaitu tenaga listrik dan lain sebagainya, sehingga kehidupan
bermasyarakat menjadi kurang efektif dan efisien.
Sementara masyarakat kab.
Deiyai belum memiliki modal awal atau
bantuan dana, khusus untuk membuka usaha perorangan atau kelompok orang dari
pemerintah daerah.
Sehingga jumlah angka
pengangguran semakin bertambah dari tahun ke tahun. Kaum muda yang berjiwa
kewirausahaan akan menjadi tidak
berfungsi. Kemudian, usia muda sudah banyak yang terjerumus dalam dunia
kenakalan remaja.
Karena kurang adanaya
lapangan kerja bagi masyarakat pribumi itu, dan kurang controling (pengawasan) dari pemerintah daerah terhadap masyarakat
yang belum berpendidikan itu.
Kemudian belum adanya
gedung koperasi atau kios bagi masyarakat kabupaten Deiyai. Dan kurang memfasilitas gedung pasar, termasuk; meja jualan, kursi jualan dan kelengkapan
untuk berdagang yang lain.
Sehingga, ketika ibu-ibu
Deiyai termasuk Ibu Berlina Waine, saat berjualan hasil dagangannya. Ibu
Berlina sambil mencari tempat yang cocok untuk berjualan bagi Ibunda. Tetapi
semua tempat-tempat jualan dalam pasar dan tempat-tempat yang pantas untuk
berjualan, semua sudah terpenuhi oleh orang pendatang (non-Papua) dan lebih
sedikitnya atau 10% dari itu, adalah orang pribumi Deiyai.
Hingga ibu Berlina Waine
pun bergabung dengan seumur ibu-ibu Deiyai, yang sedang berjualan di atas
tanah, yang berbecek-becek itu. Untuk itu, perbandingannya di kabupaten Deiyai,
semakin bertambah angka kemiskinan terhadap warga pribumi. Serta warga pribumi
Deiyai semua sebagai menjadi para konsumen aktif terhadap perdagangan yang dijual belikan oleh pendatang
(non-Papua).
Butuh pembentuk usaha
kelompok atau usaha peroranagan. Artinya membukakan kios (koperasi) bagi masyarakat pribumi Deiyai,
baik berupa individu atau pun kelompok agar dengan adanya itu, musti masyarakat
pribumi akan memaknai cara berbisnis yang benar, dan menuangkan ide, gagasan, kemampuan dan skill
ekonomi yang memiliki oleh masyarakat itu sendiri, melalui usaha. Serta sebagai
sarana untuk belajar menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam kehidupan
sehari-hari.
Kurangnya
komunikasi antara masyarakat dan pemerintah daerah. Artinya belum ada titik
temu secara terbuka untuk memahami dan dipahami maksud dan tujuan berwirausaha
yang jelas, oleh kedua belah pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah.
Kemudian kurang koordinasi. Karena koordinasi sebagai untuk
mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang
akan dilaksanakan, tidak saling bertentangan atau simpangsiur. Sehingga, kami
sendiri selalu melihat pada setiap langkah kaki kami oleh mata kepala kami
bahwa perkembangan dan pertumbuhan ekonomi selalu menjadi memperhambat. Dan
akhirnya semua pintu meneju kesuksesan dalam
dunia berbisnis akan menguasai oleh pendatang (non-Papua).
Oleh karena itu,
sebagai kesimpulan, ketika pemerintah daerah Deiyai membagikan ‘modal awal’ untuk
berdagangkan dan membangunkan ‘gedung koperasi’ bagi masyarakat Deiyai. Baik
perorangan maupun kelompok orang, maka masyarakat Deiyai musti tidak terlalu menampung
di tempat-tempat yang tidak logis untuk berjualan. kemudian mesti mengurangi
angka pengangguran dan kemiskinan, karena koperasi sebagai wadah untuk mengalurkan skill dan kemampuan berbisnis bagi para pengangguran dan masa
remaja yang begitu terbawa arus oleh dunia kenakalan itu. Serta sebagai sarana
untuk belajar menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
Dan dengan adanya
koperasi pribadi pasti ibu-ibu kita yang berjualan di atas tanah berbecek-becek
dan berjalan kaki menuju daerah satu ke daerah lain. Hanya untuk berjualan
hasil dagang mereka. Ibaratnya belum tentu, laku habis oleh para konsumen atau tidak. jelas itu, mesti
semakin berkurang, karena sudah ada tersedia tempat untuk berjualan. Dengan
cara itu, maka pasti kota emas Deiyai menjadi kota maju dalam dunia ekonomi
bagi kalangan masyarakat dan pemerintahan.
Sebagai solusi, ketika
anda mengalurkan dana awal dan pembangunan ‘koperasi’ bagi masyarakat Deiyai.
Maka anda butuh beberapa tahap, tapi yang lebih utama adalah butuh kontrol (controlling) terhadap masyarakat dan jadikan
anda sebagai proaktif dalam pengerakkan (actuating). Artinya anda masuk melalui,
motivasi, dorongan serta menggunakan cara anda. Demi untuk memecahkan kendala
yang telah dialami oleh masyarakat pribumi Deiyai.
Harapannya, anda
menjalankan tugas dan tanggung jawab anda sebagai seorang penggerak untuk masyarakat,
maka lima tahun ke depan, kota emas Deiyai yang kami cintai akan menjadi
pendapatan dalam laba, sebangding dengan warga pendatang (non-Papua) yang
sedang menguasai itu, karena ekonomi adalah faktor pengukuran utama untuk hidup
aman dan sejahtera dalam kehidupan bermasyarakat bagi manusia.
Semoga bermakna
dan bermanfaat bagi para pembaca dan pelaksana yang budiman.
By: Fabianus
Kegegady Pigome
Mahasiswa Papua,
Kuliah di Yogyakarta