Social Icons

Pages

Kamis, 18 Juni 2015

Hay Sahabat



Apapun yang anda berikan pada ku, aku tak mampu balas dengan tangan ku, namun kau juga sudah mengerti bahwa inilah SAHABAT ku.


Mudah ungkapkan kata sahabat namun tetapi kata SAHABAT memiliki arti yang teramat penting dalam kehidupan sosial. Sahabat akan selalu hadir di tiap kehidupan kita, ia dapat menghibur kita dikala saat kita sedih, membuat kita tertawa, setia menemani dimasa-masa suka maupun duka, dan selalu sabar dalam menyertai kehidupan kita.
Sahabat tidak akan pernah mencelakakan dan memanfaatkan kita, ia tak mau menunutut pamrih dan waktu dalam menolong, ia akan melakukan sesuatu disaat kita membutuhkannya tanpa meminta  imbalan, balas jasa, bahkan ucapan terima kasih.
 Kita dapat menemukan banyak karakter untuk dijadikan sahabat, tetapi dalam menemukan sahabat tidak semudah yang kita bayangkan, tidak cukup dengan perkenalan yang singkat atau memerlukan waktu yang lama dalam kita menilai seseorang untuk menjadi sahabat, karena sahabat akan hadir dengan sendirinya tanpa kita sadari dan dalam kurun waktu yang tidak dapat kita tentukan.
Tidak ada satu orang pun yang tidak membutuhkan sahabat, semua pasti mengiginkan untuk memiliki sahabat, dimana dengan adanya sahabat kita dapat mencurahkan seluruh isi hati kita, bahkan sampai sesuatu hal yang sangat rahasia pun dapat diungkapkan pada sahabat kita, Dan sahabat akan menyimpannya erat/kuat dalam hatinya bahkan akan rela untuk mengorbankan dirinya demi menjaga rahasia sahabatnya.
SAHABAT  ia datang bukan karena harta benda dan mewah namun tetapi ia datang karena utusan dari Tuhan Allah jadi rawatlah baik-baik sahat mu.

                                              
  Kaulah Bintang dalam Hati ku
Gorontalo, 18 Juni 2015. 18.46
Asrama Papua Cenderawasih IX
Nomor K. 20 Lantai 2 

Oleh Mabipai. B.Pigome




Minggu, 14 Juni 2015

Peran Guru terhadap Siswa di Sekolah

   
          Guru merupakan orang yang berprofesi untuk mengajar suatu ilmu. Guru sering disebut pencetak pensil. Karena adanya guru, maka mampu merubahkan karakter dan pandangan manusia, seibarat pensil tajam yang mampu menulis. Ada pun guru untuk mendidik  siswa melalui ilmu yang diprofesikan agar menciptakan manusia yang bersifat unifersal, khususnya pada siswa sendiri dan pada umumnya di  lingkungan masyarakat.

Untuk menjadikan manusia berunifersal dan bermoral, guru mampu memiliki salah satu metode yang 'mempengaruhi siswa' , baik metode mengajar yang dibuat oleh guru tersebut sesuai penelitian lingkungan ataupun ditentukan oleh dinas pendidikan.

Dengan demikian, guru memiliki beberapa peran yang dapat dilakukan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai guru yang sebenarnya adalah:

Guru sebagai pendidik, artinya saat menjalankan peran sebagai pendidik, guru yang berprofesi berusaha untuk mengembangkan kepribadian anak, membimbing, membina berbudi yang baik, serta mengarahkan studi sesuai pasion yang mereka miliki. Agar tidak terjadi suatu  penghambatan yang membuat mereka menjadi putus sekolah.

Guru sebagai penggerak, maka guru sangat penting untuk memunyai penarikan kepribadiannya kepada siswa. Untuk melalui cara penampilan, gaya berbicara, humor, maupun kreatifan lain sehingga mereka mampu menerima dan menekuni pelajarannya dengan baik.  Jika pelajarannya termasuk  minat bagi mereka maka di bidangnya mereka akan mengembangkan lebih jauh.  

Guru juga sebagai pemotivator, seorang guru yang berprofesional dimampukan untuk mendorong setiap siswa sesuai perkembangan yang telah ditemui dalam beberapa ujian, tugas serta penilaian pada psikolog mereka sendiri.

Jika bidangnya bukan termasuk kemampuan mereka, maka mesti akan bertanda pada anak didiknya. Misalnya jarang mengumpulkan tugas, banyak alasan, suka melamun di kelas, serta nilainya di bawah standar kompetensi. Maka itu sebagai peluang untuk mendorong. 
guru sebagai pengarah, merupaka dimana seorang guru mengarahkan anak muridnya ke arah bidang yang mereka tekuni. Karena melalui pengetahuan yang diminati, mesti 90% siswa mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan sekolah maupun ektrakulikuler serta masalah-masalah di lingkungan sosial.

Kemudian guru sangat diperlukan untuk mengontrol anak muridnya, ketika dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di saat ekstrakulikuer, agar tidak mudah mempengaruhi dengan pengaruh sosial lain dan siswa lebih meningkatkan semangat belajar  yang sebenarnya. Karena tanpa kontrol dan mengevaluasi dari guru pendidik, maka siswa tidak akan mengetahui letak kesaahannya. solusi untuk memecahkan permasalahan  hanya dapat diketahui oleh seorang guru melalui hasil evaluasi.

Guru sebagai manajer, artinya dimana seorang guru profesional mengatur konsepan materi sesuai motode yang akan diajarkan. juga perlu merencanakan motode yang akan mengajarkan, baik materi maupun moralitas, sehingga kepribadian anak yang berkualitas akan nampak pula. 

Sebagai kenyataan yang sedang bangun di Indonesia, khususnya di Papua banyak guru-guru profesional yang kurang terapkan peran-peran yang harus dilakukan oleh guru tersebut.
Sehingga banyak siswa yang kurang menekuni jurusan yang akan menjalaninya. Ada pun tidak sukses dan banyak yang putus sekolah,  baik tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) maupun perguruan tinggi. Inilah akibat yang sering ditemukan di kaum pelajar serta mahasiswa.

Dengannya maka kita perlu terapkan peran-peran yang diwajibkan sebagai pengajar, pendidik, penggerak, pemotivator, pengarah, pengontrol serta pengatur pada perkembangan anak. Untuk itu, dari tingkat pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Agar kedepannya tercipta manusia yang bermoral dan berbudi pekerti serta berpengetahuan yang mampu merubahkan suku, bangsa serta negara.


Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan pelaksana yang budiman. 



Oleh;

Fabianus Pigome, Jurusan Akuntansi, Kuliah di Yogyakarta

Rabu, 10 Juni 2015

Tetap Menjaga Keutuhan Pangan Lokal



Pangan lokal adalah di mana seseorang atau kelompok orang (suku, ras dan etnis) menjaga, menghasilkan dan melestarikan keanekaragam Sumber Daya Alam (SDA) yang sudah ada di suatu wilayah, seperti menjaga hutan dari penebangan liar, menghasilkan alat budaya secara terus- menerus dan selalu melestarikan kekayaan alam serta meneruskan tata aturan adat secara regenerasi.

Begitu pun dengan bumi Papua, pulau Papua adalah alam yang begitu kaya dan dikagumi oleh negara ini, termasuk negara-negara maju yang sedang  mendiami di kulit bumi, misalnya negara asing sangat merindukan uranium yang ada di Bumi Cendrawasih untuk membuat bom dan alat-alat perang lain. Kerinduan tersebut akan mengakibatkan rasa “iri hati” sehingga sudah terjadi “pencurian” terhadap kekayaan alam yang ada di Papua. Khususnya di PT Freeport dan umumnya di Bumi Cendrawasih yang di mana sudah diketahui oleh berbagai sumber seperti  media, bahwa perak, uranium dan kekayaan lain sudah “dicuri” di samping menambang emas dan mengambil kekayaan lain. Tidak hanya mencuri kekayaam alam bumi Papua namun juga pangan lokal seperti peternakan, perikanan dan  perkebunan serta produk ekonomi lokal lain sudah semakin menurun untuk daya menjaga keutuhan dan peningkatannya.

Dulunya para penggembala sapi dan babi serta peternakan yang lain, namun  sekarang menjadi kaum konsumtif terhadap daging-daging berkimia dan bervaksin, seperti daging ayam potong. Kronologisnya, ayam rasa pedaging yang disuntik vaksin dan mengonsumsi berbagai macam vitamin agar memiliki bobot maksimal, juga disuntik dengan hormon Estrogen. Akibat dari hormon itu sangat mempengaruh pada tubuh manusia. “Jika pria mengonsumsi daging ayam broiler yang masih melekat hormon Estrogen, maka pria itu tumbuh seperti perempuan. Ciri fisik perempuan akan dialami oleh pria tersebut, seperti  dada yang membesar dan perilakunya berubah. Sehingga, cenderung seperti perempuan” kata dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan ginjal dan hipertensis.

Orang yang memiliki jiwa perikanan akan memfasilitasi  banyaknya kolam ikan dengan beranekaragam jenis bioma. Kehidupan masyarakatnya sangat menyejahterakan sehingga terjadi transaksi secara barter (penukaran) hasil tangkaan antara masyarakat gunung dengan pinggiran danau namun sekarang sudah tiada lagi entah ke mana. Sistem ini berlakunya bukan cuma pada zaman prasejarah. Artinya, sebelum hadir nilai mata uang (rupiah) masyrakat melakukan sistem barter. Akhir- akhir ini pun masyarakat masih melakukan sistem barter meskipun nilai mata uang rupiah telah masuk ke Papua.

Kemudian terjadi pula semangat berkebun. Sementara masyarakat jarang membuat kebun yang bersifat budaya dan jadikan kebun mereka adalah kios dan toko-toko kuliner. Sehingga pribadi seseorang akan menjadi kurang sejahtera dan kurang berbudaya. Pada hal pandangan dari agama, budaya dan politik selalu mengajak kita orang Papua bahwa setiap keluarga diharuskan untuk memiliki kebun satu lokasi atau semampunya. Karena kebun sebagai “gudang makanan” dan tempat  menyimpan bahan berbudaya lokal  seperti bobee, bebii, tota nota, tota naapo, tota nomoo dan sejenis lainnya.

Adapun terjadi kurangnya berbisnis. Seperti usaha individu dan usaha kelompok. Salah satunya adalah produk kopi asli Moanemani. Nyatanya produk tersebut sangat berkualitas dan berminat bagi wilayah lain di Bumi Nusantara. Dan berbisnis lokal lain seperti, berjualan hasil peternakan, hasil perikanan dan hasil perkebunan serta kerajinan tangan lain (membuat pagar, membuat perahu, membuat noken dll) mesti diharuskan untuk melestarikannya.

Beberapa tips untuk mengatasi permasalahan yang sedang dialami oleh masyarakat Papua tersebut adalah sebagai berikut;
1. Tindakan dan pertegasan yang kita sudah lakukan bersama masyarakat serta tokoh-tokoh adat terhadap ‘pencuri’ yang sedang mencuri kekayaan alam Papua, kita sangat berapresiasi. Untuk ke depannya kita perlu memantulkan semangat perlindungan yang berbobot, baik hukum adat maupun hukum pemerintah. Jika mereka masih mencuri terus maka secara adat kita pun harus melawan dan bertindak keras dengan senjata adat kita yaitu “kegoo”.
2. Kelompok peternakan yang terkenal dengan istilah SPL (sekolah,,,) sangat berguna dan menyejahterakan bagi masyarakat. Kemudian peternakan secara  individu juga perlu ditingkatkan seperti ayam, bebek, babi dan sejenis lainnya. Dengan adanya ternak lokal itu maka kita pun hidup aman, damai dan tenteram. Dari tokoh agama, sosial budaya dan politik, kita selalu diajak untuk merenungkan kembali. Jika kita kurang bisa memelihara peternakan satupun maka kita perlu mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak menguntungkan dan memenuhi hidup kita. Misalnya kelompok berjudi, jalan keliling dunia tanpa tujuan yang jelas, togel yang untungnya sesaat saja itu, dan kegiatan lain yang bersifat penghalang untuk berternak.
3. Untuk meningkatkan perikanan serta marga satwa lokal lain, Pemerintah Daerah (Pemda) perlu membuat kegiatan kelompok di daerahnya. Bagaimana kelompok itu bisa bekerja dan menonjolkan skill untuk perikanan misalnya membuat kolam ikan ataupun tempat sejenis untuk menampung ikan.
4. Untuk berkebun secara lokal, kita perlu mengintropeksi diri bahwa ketika toko-toko, termasuk gedung pasar ini sekarang kita jadikan ‘kebun’. Kita bertanya diri bahwa mungkinkah dengan hasil kegiatan yang tidak bermakna itu, kebutuhan hidup kita bisa akan tercukupi? Jika tanpa pertanyaan ini maka seseorang ‘Hidup tanpa sarang’. Artinya hidup tidak berbudaya. Maka, kita tetap menata budaya (adat istiadat) kita dari kebun (owadaa).
5. Kita sadar bahwa bisnis lokal seperti membuat pagar, membuat perahu, berternak, berkebun, serta perikanan sangat penting untuk meningkatkan dan tetap melestarikan seperti dulu. Karena dengan adanya itu, maka hidup kita lebih bersejahtera dan bermakna. Kita pun sadar juga bahwa dunia sekarang mesti diukur dengan nilai uang. Di samping kita menjalankan bisnis modern kita sangatlah penting juga untuk berbisnis lokal tersebut. Jikalau adanya berbisnis lokal di atas maka budaya dan adat istiadat orang Papua akan nampak dan berwibawa.

Oleh karena itu, kita perlu “kesadaran” dari diri kita sendiri, terutama harus ada kontribusi dari Pemerintah Daerah (pemda) berupa materil maupun moril kepada masyarakat Papua untuk meningkat dan memantulkan semangat berpangan lokal. Agar itu, sebagai tempat perlindungan, kelangsungan hidup serta menanamkan nilai budaya agama, ekonomi dan sosial politik.

Semoga bermanfaat bagi pembaca dan pelaksana yang budiman.

Tulisan: Pernah muat di Buletin " Wogada Wokebada," Edisi ke-7.



Oleh:

 Fabianus Kegegadi Pigome, Jurusan Akuntansi di Yogyakarta
 
Blogger Templates