Pangan lokal adalah di mana seseorang atau kelompok orang (suku, ras dan
etnis) menjaga, menghasilkan dan melestarikan keanekaragam Sumber Daya Alam
(SDA) yang sudah ada di suatu wilayah, seperti menjaga hutan dari penebangan
liar, menghasilkan alat budaya secara terus- menerus dan selalu melestarikan
kekayaan alam serta meneruskan tata aturan adat secara regenerasi.
Begitu pun dengan bumi Papua, pulau Papua adalah alam
yang begitu kaya dan dikagumi oleh negara ini, termasuk negara-negara maju yang
sedang mendiami di kulit bumi, misalnya
negara asing sangat merindukan uranium yang ada di Bumi Cendrawasih untuk
membuat bom dan alat-alat perang lain. Kerinduan tersebut akan mengakibatkan
rasa “iri hati” sehingga sudah terjadi “pencurian” terhadap kekayaan alam yang
ada di Papua. Khususnya di PT Freeport dan umumnya di Bumi Cendrawasih yang di mana
sudah diketahui oleh berbagai sumber seperti
media, bahwa perak, uranium dan kekayaan lain sudah “dicuri” di samping menambang
emas dan mengambil kekayaan lain. Tidak hanya mencuri kekayaam alam bumi Papua
namun juga pangan lokal seperti peternakan,
perikanan dan perkebunan serta produk
ekonomi lokal lain sudah semakin menurun untuk daya menjaga keutuhan dan
peningkatannya.
Dulunya para penggembala sapi dan babi serta peternakan
yang lain, namun sekarang menjadi kaum
konsumtif terhadap daging-daging berkimia dan bervaksin, seperti daging ayam
potong. Kronologisnya, ayam rasa pedaging yang disuntik vaksin dan mengonsumsi
berbagai macam vitamin agar memiliki bobot maksimal, juga disuntik dengan
hormon Estrogen. Akibat dari hormon itu sangat mempengaruh pada tubuh manusia.
“Jika pria mengonsumsi daging ayam broiler yang masih melekat hormon Estrogen,
maka pria itu tumbuh seperti perempuan. Ciri fisik perempuan akan dialami oleh
pria tersebut, seperti dada yang
membesar dan perilakunya berubah. Sehingga, cenderung seperti perempuan” kata
dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan ginjal dan hipertensis.
Orang yang memiliki jiwa perikanan akan memfasilitasi banyaknya kolam ikan dengan beranekaragam
jenis bioma. Kehidupan masyarakatnya
sangat menyejahterakan sehingga terjadi transaksi secara barter (penukaran)
hasil tangkaan antara masyarakat gunung dengan pinggiran danau namun sekarang
sudah tiada lagi entah ke mana. Sistem ini berlakunya bukan cuma pada zaman
prasejarah. Artinya, sebelum hadir nilai mata uang (rupiah) masyrakat melakukan
sistem barter. Akhir- akhir ini pun masyarakat masih melakukan sistem barter meskipun
nilai mata uang rupiah telah masuk ke Papua.
Kemudian terjadi pula semangat berkebun. Sementara
masyarakat jarang membuat kebun yang bersifat budaya dan jadikan kebun mereka
adalah kios dan toko-toko kuliner. Sehingga pribadi seseorang akan menjadi
kurang sejahtera dan kurang berbudaya. Pada hal pandangan dari agama, budaya
dan politik selalu mengajak kita orang Papua bahwa setiap keluarga diharuskan
untuk memiliki kebun satu lokasi atau semampunya. Karena kebun sebagai “gudang
makanan” dan tempat menyimpan bahan
berbudaya lokal seperti bobee, bebii, tota nota, tota naapo, tota
nomoo dan sejenis lainnya.
Adapun terjadi kurangnya berbisnis. Seperti usaha
individu dan usaha kelompok. Salah satunya adalah produk kopi asli Moanemani.
Nyatanya produk tersebut sangat berkualitas dan berminat bagi wilayah lain di
Bumi Nusantara. Dan berbisnis lokal lain seperti, berjualan hasil peternakan,
hasil perikanan dan hasil perkebunan serta kerajinan tangan lain (membuat
pagar, membuat perahu, membuat noken dll) mesti diharuskan untuk
melestarikannya.
Beberapa tips untuk mengatasi permasalahan yang sedang
dialami oleh masyarakat Papua tersebut adalah sebagai berikut;
1.
Tindakan dan pertegasan yang kita sudah
lakukan bersama masyarakat serta tokoh-tokoh adat terhadap ‘pencuri’ yang
sedang mencuri kekayaan alam Papua, kita sangat berapresiasi. Untuk ke depannya
kita perlu memantulkan semangat perlindungan yang berbobot, baik hukum adat
maupun hukum pemerintah. Jika mereka masih mencuri terus maka secara adat kita
pun harus melawan dan bertindak keras dengan senjata adat kita yaitu “kegoo”.
2.
Kelompok peternakan yang terkenal dengan
istilah SPL (sekolah,,,) sangat berguna dan menyejahterakan bagi masyarakat.
Kemudian peternakan secara individu juga
perlu ditingkatkan seperti ayam, bebek, babi dan sejenis lainnya. Dengan adanya
ternak lokal itu maka kita pun hidup aman, damai dan tenteram. Dari tokoh
agama, sosial budaya dan politik, kita selalu diajak untuk merenungkan kembali.
Jika kita kurang bisa memelihara peternakan satupun maka kita perlu mengurangi
kegiatan-kegiatan yang tidak menguntungkan dan memenuhi hidup kita. Misalnya
kelompok berjudi, jalan keliling dunia tanpa tujuan yang jelas, togel yang
untungnya sesaat saja itu, dan kegiatan lain yang bersifat penghalang untuk
berternak.
3.
Untuk meningkatkan perikanan serta marga
satwa lokal lain, Pemerintah Daerah (Pemda) perlu membuat kegiatan kelompok di
daerahnya. Bagaimana kelompok itu bisa bekerja dan menonjolkan skill untuk
perikanan misalnya membuat kolam ikan ataupun tempat sejenis untuk menampung
ikan.
4.
Untuk berkebun secara lokal, kita perlu
mengintropeksi diri bahwa ketika toko-toko, termasuk gedung pasar ini sekarang
kita jadikan ‘kebun’. Kita bertanya diri bahwa mungkinkah dengan hasil kegiatan
yang tidak bermakna itu, kebutuhan hidup kita bisa akan tercukupi? Jika tanpa
pertanyaan ini maka seseorang ‘Hidup tanpa sarang’. Artinya hidup tidak
berbudaya. Maka, kita tetap menata budaya (adat istiadat) kita dari kebun
(owadaa).
5.
Kita sadar bahwa bisnis lokal seperti membuat
pagar, membuat perahu, berternak, berkebun, serta perikanan sangat penting
untuk meningkatkan dan tetap melestarikan seperti dulu. Karena dengan adanya
itu, maka hidup kita lebih bersejahtera dan bermakna. Kita pun sadar juga bahwa
dunia sekarang mesti diukur dengan nilai uang. Di samping kita menjalankan
bisnis modern kita sangatlah penting juga untuk berbisnis lokal tersebut.
Jikalau adanya berbisnis lokal di atas maka budaya dan adat istiadat orang
Papua akan nampak dan berwibawa.
Oleh karena itu, kita perlu “kesadaran” dari diri kita
sendiri, terutama harus ada kontribusi dari Pemerintah Daerah (pemda) berupa
materil maupun moril kepada masyarakat Papua untuk meningkat dan memantulkan
semangat berpangan lokal. Agar itu, sebagai tempat perlindungan, kelangsungan
hidup serta menanamkan nilai budaya agama, ekonomi dan sosial politik.
Semoga bermanfaat bagi pembaca dan pelaksana
yang budiman.
Tulisan: Pernah muat di Buletin " Wogada Wokebada," Edisi ke-7.
Oleh:
Fabianus Kegegadi Pigome,
Jurusan Akuntansi di Yogyakarta
