Social Icons

Pages

Rabu, 10 Juni 2015

Tetap Menjaga Keutuhan Pangan Lokal



Pangan lokal adalah di mana seseorang atau kelompok orang (suku, ras dan etnis) menjaga, menghasilkan dan melestarikan keanekaragam Sumber Daya Alam (SDA) yang sudah ada di suatu wilayah, seperti menjaga hutan dari penebangan liar, menghasilkan alat budaya secara terus- menerus dan selalu melestarikan kekayaan alam serta meneruskan tata aturan adat secara regenerasi.

Begitu pun dengan bumi Papua, pulau Papua adalah alam yang begitu kaya dan dikagumi oleh negara ini, termasuk negara-negara maju yang sedang  mendiami di kulit bumi, misalnya negara asing sangat merindukan uranium yang ada di Bumi Cendrawasih untuk membuat bom dan alat-alat perang lain. Kerinduan tersebut akan mengakibatkan rasa “iri hati” sehingga sudah terjadi “pencurian” terhadap kekayaan alam yang ada di Papua. Khususnya di PT Freeport dan umumnya di Bumi Cendrawasih yang di mana sudah diketahui oleh berbagai sumber seperti  media, bahwa perak, uranium dan kekayaan lain sudah “dicuri” di samping menambang emas dan mengambil kekayaan lain. Tidak hanya mencuri kekayaam alam bumi Papua namun juga pangan lokal seperti peternakan, perikanan dan  perkebunan serta produk ekonomi lokal lain sudah semakin menurun untuk daya menjaga keutuhan dan peningkatannya.

Dulunya para penggembala sapi dan babi serta peternakan yang lain, namun  sekarang menjadi kaum konsumtif terhadap daging-daging berkimia dan bervaksin, seperti daging ayam potong. Kronologisnya, ayam rasa pedaging yang disuntik vaksin dan mengonsumsi berbagai macam vitamin agar memiliki bobot maksimal, juga disuntik dengan hormon Estrogen. Akibat dari hormon itu sangat mempengaruh pada tubuh manusia. “Jika pria mengonsumsi daging ayam broiler yang masih melekat hormon Estrogen, maka pria itu tumbuh seperti perempuan. Ciri fisik perempuan akan dialami oleh pria tersebut, seperti  dada yang membesar dan perilakunya berubah. Sehingga, cenderung seperti perempuan” kata dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan ginjal dan hipertensis.

Orang yang memiliki jiwa perikanan akan memfasilitasi  banyaknya kolam ikan dengan beranekaragam jenis bioma. Kehidupan masyarakatnya sangat menyejahterakan sehingga terjadi transaksi secara barter (penukaran) hasil tangkaan antara masyarakat gunung dengan pinggiran danau namun sekarang sudah tiada lagi entah ke mana. Sistem ini berlakunya bukan cuma pada zaman prasejarah. Artinya, sebelum hadir nilai mata uang (rupiah) masyrakat melakukan sistem barter. Akhir- akhir ini pun masyarakat masih melakukan sistem barter meskipun nilai mata uang rupiah telah masuk ke Papua.

Kemudian terjadi pula semangat berkebun. Sementara masyarakat jarang membuat kebun yang bersifat budaya dan jadikan kebun mereka adalah kios dan toko-toko kuliner. Sehingga pribadi seseorang akan menjadi kurang sejahtera dan kurang berbudaya. Pada hal pandangan dari agama, budaya dan politik selalu mengajak kita orang Papua bahwa setiap keluarga diharuskan untuk memiliki kebun satu lokasi atau semampunya. Karena kebun sebagai “gudang makanan” dan tempat  menyimpan bahan berbudaya lokal  seperti bobee, bebii, tota nota, tota naapo, tota nomoo dan sejenis lainnya.

Adapun terjadi kurangnya berbisnis. Seperti usaha individu dan usaha kelompok. Salah satunya adalah produk kopi asli Moanemani. Nyatanya produk tersebut sangat berkualitas dan berminat bagi wilayah lain di Bumi Nusantara. Dan berbisnis lokal lain seperti, berjualan hasil peternakan, hasil perikanan dan hasil perkebunan serta kerajinan tangan lain (membuat pagar, membuat perahu, membuat noken dll) mesti diharuskan untuk melestarikannya.

Beberapa tips untuk mengatasi permasalahan yang sedang dialami oleh masyarakat Papua tersebut adalah sebagai berikut;
1. Tindakan dan pertegasan yang kita sudah lakukan bersama masyarakat serta tokoh-tokoh adat terhadap ‘pencuri’ yang sedang mencuri kekayaan alam Papua, kita sangat berapresiasi. Untuk ke depannya kita perlu memantulkan semangat perlindungan yang berbobot, baik hukum adat maupun hukum pemerintah. Jika mereka masih mencuri terus maka secara adat kita pun harus melawan dan bertindak keras dengan senjata adat kita yaitu “kegoo”.
2. Kelompok peternakan yang terkenal dengan istilah SPL (sekolah,,,) sangat berguna dan menyejahterakan bagi masyarakat. Kemudian peternakan secara  individu juga perlu ditingkatkan seperti ayam, bebek, babi dan sejenis lainnya. Dengan adanya ternak lokal itu maka kita pun hidup aman, damai dan tenteram. Dari tokoh agama, sosial budaya dan politik, kita selalu diajak untuk merenungkan kembali. Jika kita kurang bisa memelihara peternakan satupun maka kita perlu mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak menguntungkan dan memenuhi hidup kita. Misalnya kelompok berjudi, jalan keliling dunia tanpa tujuan yang jelas, togel yang untungnya sesaat saja itu, dan kegiatan lain yang bersifat penghalang untuk berternak.
3. Untuk meningkatkan perikanan serta marga satwa lokal lain, Pemerintah Daerah (Pemda) perlu membuat kegiatan kelompok di daerahnya. Bagaimana kelompok itu bisa bekerja dan menonjolkan skill untuk perikanan misalnya membuat kolam ikan ataupun tempat sejenis untuk menampung ikan.
4. Untuk berkebun secara lokal, kita perlu mengintropeksi diri bahwa ketika toko-toko, termasuk gedung pasar ini sekarang kita jadikan ‘kebun’. Kita bertanya diri bahwa mungkinkah dengan hasil kegiatan yang tidak bermakna itu, kebutuhan hidup kita bisa akan tercukupi? Jika tanpa pertanyaan ini maka seseorang ‘Hidup tanpa sarang’. Artinya hidup tidak berbudaya. Maka, kita tetap menata budaya (adat istiadat) kita dari kebun (owadaa).
5. Kita sadar bahwa bisnis lokal seperti membuat pagar, membuat perahu, berternak, berkebun, serta perikanan sangat penting untuk meningkatkan dan tetap melestarikan seperti dulu. Karena dengan adanya itu, maka hidup kita lebih bersejahtera dan bermakna. Kita pun sadar juga bahwa dunia sekarang mesti diukur dengan nilai uang. Di samping kita menjalankan bisnis modern kita sangatlah penting juga untuk berbisnis lokal tersebut. Jikalau adanya berbisnis lokal di atas maka budaya dan adat istiadat orang Papua akan nampak dan berwibawa.

Oleh karena itu, kita perlu “kesadaran” dari diri kita sendiri, terutama harus ada kontribusi dari Pemerintah Daerah (pemda) berupa materil maupun moril kepada masyarakat Papua untuk meningkat dan memantulkan semangat berpangan lokal. Agar itu, sebagai tempat perlindungan, kelangsungan hidup serta menanamkan nilai budaya agama, ekonomi dan sosial politik.

Semoga bermanfaat bagi pembaca dan pelaksana yang budiman.

Tulisan: Pernah muat di Buletin " Wogada Wokebada," Edisi ke-7.



Oleh:

 Fabianus Kegegadi Pigome, Jurusan Akuntansi di Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates